huzaef

huzaef

Jumat, 13 Maret 2015

membasuh nuktah hitam

Membasuh Nuktah Hitam

            Ternyata dikehidupan yang serba duniawi ini terkadang membuat seseorang menjadi lupa daratan. Lupa dimana ia sedang berdiri mencongkakkan kepalanya dan berjalan dengan menenteng tangan. Lupa apa yang tengah asyik dibicarakannya ternyata mengandung musibah bagi dirinya sendiri. lupa ketika asyik membelanjakan harta, banyak hal yang harus disucikan kembali. Termasuk hati dan lisan.
            Mengapa hati? Teringat akan sabda Rosulullah sallahu’alaihiwasalam yang mengatakan bahwa didalam tubuh seseorang itu ada segumpal daging, jika baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika rusak maka rusaklah seluruh tubuh,ketahuilah itulah hati (mutafaqalaih). Dengan artian bahwa niat yang ada didalam hati itulah yang menentukan baik bauruknya amalan yang akan kita kerjakan. Dan manakala hati telah tertutup oleh nuktah-nuktah hitam, maka tertutup pula cahaya keimanan dalam diri seseorang tersebut. Hati yang penuh dusta, hati yang kering tandus, hati yang dibiarkan terus bermaksiat kepada  Allah hanya menyisakan kotoran-kotoran yang disebut dengan penyakit hati.  Dan apabila penyakit itu terpelihara tanpa ada niatan untuk menyucikannya maka akan mengantarkan seseorang pada Qolbun mayyit. Hati yang mati. Sebagaimana dalam firman Allah subhanahuwata’ala yang artinya “
Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup[21]. dan bagi mereka siksa yang amat berat.”
Dalam tafsir ibn katsir, Qatada menyatakan bahwa Allah telah mengunci hati maksudnya setan telah menguasai dirinya. Tunduk atas keinginan setan, sehingga ia tidak dapat mendengarkan nasihat (kebenaran) dan tidak dapat menerima hidayah disebabkan telah terkuncinya hati.
Lalu bagaiamana dengan lisan? Dari hati yang telah menjadi qalbun mayyit menjadikan lisan sebagai sarana bermaksiat, sebagai jalan melakukan dosa-dosa. Dan diantara dosa yang dilakukan lisan ialah ghibah, fitnah,namimah, mengucapkan kata-kata kotor, membicarakan hal-hal yang tak berfaedah, dan lain sebaginya.
salamatul insan fii hifdzil lisan’  keselamatan manusia ada pada menjaga lisannya. Apabila tidak dijaga, maka lisan tersebut siap mengantarkan pada kebinasaan. Nau’dzubillahimindzalik.
            Jika hati telah ternoda oleh banyaknya nuktah hitam, jika lisan telah kelu dengan ucapan-ucapan kebinasaan, maka istigfar adalah penebusnya. Dengan memperbanyak istigfar, melunakkan hati yang beku, mencairkan hati yang keras, sedikit demi sedikit menjernihkan kembali hati yang kelam. Istigfar atau taubat sendiri menurut Hatim Raja Mahmud Audah dalam bukunya yang berjudul 8 keajaiban istigfar adalah sesuatu yang wajib dilakukan jika mengetahui apa yang dilakukannya adalah sebuah maksiat. Dengan berlandaskan dalil surat annur :31 yang artinya “ dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Karena orang yang bertaqwa ibaratnya seperi berjalan diatas duri-duri, ia akan berhati-hati dalam setiap langkah maupun ucapan. Dan hanya kepada Allah-lah segara urusan dikembalikan. Wallahua’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar