Membasuh Nuktah Hitam
Ternyata
dikehidupan yang serba duniawi ini terkadang membuat seseorang menjadi lupa
daratan. Lupa dimana ia sedang berdiri mencongkakkan kepalanya dan berjalan
dengan menenteng tangan. Lupa apa yang tengah asyik dibicarakannya ternyata
mengandung musibah bagi dirinya sendiri. lupa ketika asyik membelanjakan harta,
banyak hal yang harus disucikan kembali. Termasuk hati dan lisan.
Mengapa
hati? Teringat akan sabda Rosulullah sallahu’alaihiwasalam yang mengatakan
bahwa didalam tubuh seseorang itu ada segumpal daging, jika baik, maka baiklah
seluruh tubuh; jika rusak maka rusaklah seluruh tubuh,ketahuilah itulah hati
(mutafaqalaih). Dengan artian bahwa niat yang ada didalam hati itulah yang
menentukan baik bauruknya amalan yang akan kita kerjakan. Dan manakala hati
telah tertutup oleh nuktah-nuktah hitam, maka tertutup pula cahaya keimanan
dalam diri seseorang tersebut. Hati yang penuh dusta, hati yang kering tandus,
hati yang dibiarkan terus bermaksiat kepada
Allah hanya menyisakan kotoran-kotoran yang disebut dengan penyakit
hati. Dan apabila penyakit itu
terpelihara tanpa ada niatan untuk menyucikannya maka akan mengantarkan
seseorang pada Qolbun mayyit. Hati yang mati. Sebagaimana dalam firman Allah
subhanahuwata’ala yang artinya “
“Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran
mereka, dan penglihatan mereka ditutup[21]. dan bagi mereka siksa yang amat
berat.”
Dalam tafsir ibn katsir, Qatada menyatakan
bahwa Allah telah mengunci hati maksudnya setan telah menguasai dirinya. Tunduk
atas keinginan setan, sehingga ia tidak dapat mendengarkan nasihat (kebenaran)
dan tidak dapat menerima hidayah disebabkan telah terkuncinya hati.
Lalu bagaiamana dengan lisan? Dari hati yang
telah menjadi qalbun mayyit menjadikan lisan sebagai sarana bermaksiat, sebagai
jalan melakukan dosa-dosa. Dan diantara dosa yang dilakukan lisan ialah ghibah,
fitnah,namimah, mengucapkan kata-kata kotor, membicarakan hal-hal yang tak
berfaedah, dan lain sebaginya.
‘salamatul insan fii hifdzil lisan’ keselamatan manusia ada pada menjaga lisannya.
Apabila tidak dijaga, maka lisan tersebut siap mengantarkan pada kebinasaan.
Nau’dzubillahimindzalik.
Jika
hati telah ternoda oleh banyaknya nuktah hitam, jika lisan telah kelu dengan
ucapan-ucapan kebinasaan, maka istigfar adalah penebusnya. Dengan memperbanyak
istigfar, melunakkan hati yang beku, mencairkan hati yang keras, sedikit demi
sedikit menjernihkan kembali hati yang kelam. Istigfar atau taubat sendiri
menurut Hatim Raja Mahmud Audah dalam bukunya yang berjudul 8 keajaiban
istigfar adalah sesuatu yang wajib dilakukan jika mengetahui apa yang
dilakukannya adalah sebuah maksiat. Dengan berlandaskan dalil surat annur :31
yang artinya “ dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang
yang beriman supaya kamu beruntung.”
Karena orang yang bertaqwa ibaratnya seperi
berjalan diatas duri-duri, ia akan berhati-hati dalam setiap langkah maupun
ucapan. Dan hanya kepada Allah-lah segara urusan dikembalikan. Wallahua’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar