Bersandar
pada keputusan hati berarti bersandar pada kayu yang telah lapuk. Dia tidak
akan memberikan penyangga sekuat ketika kamu bersandar pada keputusan Allah.
bahkan jika kau tanya tentang dirimu sendiri, kau tidak akan lebih tau dari
pada yang menciptakanmu. Begitupula ketika kau tanya masalah hati, maka
tanyakan pada yang menciptakan hati itu, kenapa di hati ini ada masalah yang
serumit ini? hanya Dia yang memiliki dan menciptakan hati yang tau kenapa.
Perkara
hati, sebagain manusia tak begitu pandai mengungkapkan ataupun menjelaskannya.
Bahkan ada pula sebagain manusia yang terlalu kikuk dan canggung berbicara
tentang hati bahkan bicara dengan hatinya sendiri. Ketika hati merasa gelisah
yang begitu amat sangat menyiksa, aku bertanya, ‘wahai hati, tenanglah... ada
apa!’ tanyaku sambil menahan sesegukkan perih didalam. Namun ia tetap bungkam
dan bisu karena dia tak tau mengapa ia tiba-tiba terluka hingga menganga sebegitu
lebar. ‘ceriatakan padaku wahai hati, apa yang sebenarnya terjadi?’ tanyaku
sekali lagi,. Namun sayang, ia tetap membisu. Entah isyarat apa yang bisa kutangkap
dari diamnya itu. yasudah aku pergi saja dulu, toh nanti juga stabil lagi
pikirku.
Namun
setelah beberapa saat aku menghindar, dia belum juga stabil. Masih terus
gelisah. Aku terheran-heran, tidak seperti biasanya dia seperti ini.aku mencoba
menyelidiki, ada apa gerangan? Siapa yang membuat jadi seperti ini? kau bukan
seperti yang dulu lagi. Aku menghela nafas panjang, kusandarkan tubuhku disudut
kamar. Tak terasa pipi ini basah oleh buliran airmata. Tak tau kenapa sebab ia
keluar. Aku memandang keluar jendela, melihat gagahnya gedung-gedung, mecoba
menerka apa yang terjadi pada hati ini. lalu diam..
Aku
mencoba meningat-ingat apa-apa yang telah aku lakukan tempo hari. Emb, tak ada
yang istimewa. Semua berjalan seperti biasanya.normal. bahkan terkesan
membosankan. So, what happen? Tiba-tiba.. hati ini kembali sesak, seakan
menahan pilu yan amat sangat. Akupun segera berlari ke kamarmandi dan mencuci
mukaku. Ayolah, ada apa ini? setahuku aku hanya sedang sendirian disini. aku
mengehela nafas dalam-dalam, kupejamkan mata. Setelah semuanya agak begitu
tenang. Aku menemukan diaryku tergeletak diatas tempat tidur. Kubuka-buka,
kubaca-baca, haha.. ada-ada saja ternyata aku menuliskan cerita. Dasar Penulis amatiran
gumamku. Saat ku buka pada suatu lembar coret-coret, aku membaca kembali
tulisan itu, aku bingun itu tulisanku sendiri namun aku tak bisa membacanya,
aku eja sekali lagi. ‘Aii..ai.I.Mi.ii..ii..miss..miss. y..o.yu.uu’. owalah I
Miss You, aku tersenyum simpul. Haha apa ini tulisan I Miss you, rindu sama
siapa aku ini, sedikit nyengir membaca tulisan sendiri. Ketika mau aku lewati
ke lembar berikutnya, terselip sebuah nama disudut kertas.tepat dibawah tulisan
I Miss You. Ouh, nama terang. Nama siapa ini? aku mengernyitkan dahuku, mencoba
mengingat kapan aku menuliskan nama ini. dan siapa orang ini. aduh mendadak
amnesia. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini disebut-sebut. Apa aku juga pernah melihat orangnya? Eits tunggu,
sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana? Aku membuka kembali memorian ku,
taakkk!!! Tanpa sadar ketika aku beranjak dari ranjang, pigura menjatuhi
kepalaku dan ..pusiiiing minta ampun. Heii... ! ‘ooh pigura!’ kesal sekali
rasanya. Seperti terbangun dari mimpi yang amat panjang, aku melihat tanganku
menggemgam buku. Ya buku diary. Aah,
tulisan ini?! apa ini, ‘I Miss you, Ss...s..sa..a’ apa sih ini gak bisa dibaca,
Ssaa,sa..’ ah sudahlah. Aku hempaskan kembali
buku itu ke lantai dan aku melihat diriku sendiri di depan cermin. Aku menatap
dalam diriku. Terasa hampadan kosong, hati ini begitu kosong. Dia sama sekali
masih tak mau berbicara sepatah katapun. Terlihat dari caranya merasakan sesuatu
seperti kehampaan yang amat dalam.
Di sebuah tempat dengan hembusan angin yang
lebut menerpa,ditemani senja orange menghias langit kota hujan...
To be continoue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar