huzaef

huzaef

Senin, 06 Juni 2016

Nothing




            Bersandar pada keputusan hati berarti bersandar pada kayu yang telah lapuk. Dia tidak akan memberikan penyangga sekuat ketika kamu bersandar pada keputusan Allah. bahkan jika kau tanya tentang dirimu sendiri, kau tidak akan lebih tau dari pada yang menciptakanmu. Begitupula ketika kau tanya masalah hati, maka tanyakan pada yang menciptakan hati itu, kenapa di hati ini ada masalah yang serumit ini? hanya Dia yang memiliki dan menciptakan hati yang tau kenapa.
            Perkara hati, sebagain manusia tak begitu pandai mengungkapkan ataupun menjelaskannya. Bahkan ada pula sebagain manusia yang terlalu kikuk dan canggung berbicara tentang hati bahkan bicara dengan hatinya sendiri. Ketika hati merasa gelisah yang begitu amat sangat menyiksa, aku bertanya, ‘wahai hati, tenanglah... ada apa!’ tanyaku sambil menahan sesegukkan perih didalam. Namun ia tetap bungkam dan bisu karena dia tak tau mengapa ia tiba-tiba terluka hingga menganga sebegitu lebar. ‘ceriatakan padaku wahai hati, apa yang sebenarnya terjadi?’ tanyaku sekali lagi,. Namun sayang, ia tetap membisu. Entah isyarat apa yang bisa kutangkap dari diamnya itu. yasudah aku pergi saja dulu, toh nanti juga stabil lagi pikirku.
            Namun setelah beberapa saat aku menghindar, dia belum juga stabil. Masih terus gelisah. Aku terheran-heran, tidak seperti biasanya dia seperti ini.aku mencoba menyelidiki, ada apa gerangan? Siapa yang membuat jadi seperti ini? kau bukan seperti yang dulu lagi. Aku menghela nafas panjang, kusandarkan tubuhku disudut kamar. Tak terasa pipi ini basah oleh buliran airmata. Tak tau kenapa sebab ia keluar. Aku memandang keluar jendela, melihat gagahnya gedung-gedung, mecoba menerka apa yang terjadi pada hati ini. lalu diam..
            Aku mencoba meningat-ingat apa-apa yang telah aku lakukan tempo hari. Emb, tak ada yang istimewa. Semua berjalan seperti biasanya.normal. bahkan terkesan membosankan. So, what happen? Tiba-tiba.. hati ini kembali sesak, seakan menahan pilu yan amat sangat. Akupun segera berlari ke kamarmandi dan mencuci mukaku. Ayolah, ada apa ini? setahuku aku hanya sedang sendirian disini. aku mengehela nafas dalam-dalam, kupejamkan mata. Setelah semuanya agak begitu tenang. Aku menemukan diaryku tergeletak diatas tempat tidur. Kubuka-buka, kubaca-baca, haha.. ada-ada saja ternyata aku menuliskan cerita. Dasar Penulis amatiran gumamku. Saat ku buka pada suatu lembar coret-coret, aku membaca kembali tulisan itu, aku bingun itu tulisanku sendiri namun aku tak bisa membacanya, aku eja sekali lagi. ‘Aii..ai.I.Mi.ii..ii..miss..miss. y..o.yu.uu’. owalah I Miss You, aku tersenyum simpul. Haha apa ini tulisan I Miss you, rindu sama siapa aku ini, sedikit nyengir membaca tulisan sendiri. Ketika mau aku lewati ke lembar berikutnya, terselip sebuah nama disudut kertas.tepat dibawah tulisan I Miss You. Ouh, nama terang. Nama siapa ini? aku mengernyitkan dahuku, mencoba mengingat kapan aku menuliskan nama ini. dan siapa orang ini. aduh mendadak amnesia. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini disebut-sebut. Apa aku  juga pernah melihat orangnya? Eits tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana? Aku membuka kembali memorian ku, taakkk!!! Tanpa sadar ketika aku beranjak dari ranjang, pigura menjatuhi kepalaku dan ..pusiiiing minta ampun. Heii... ! ‘ooh pigura!’ kesal sekali rasanya. Seperti terbangun dari mimpi yang amat panjang, aku melihat tanganku menggemgam buku. Ya buku  diary. Aah, tulisan ini?! apa ini, ‘I Miss you, Ss...s..sa..a’ apa sih ini gak bisa dibaca, Ssaa,sa..’ ah  sudahlah. Aku hempaskan kembali buku itu ke lantai dan aku melihat diriku sendiri di depan cermin. Aku menatap dalam diriku. Terasa hampadan kosong, hati ini begitu kosong. Dia sama sekali masih tak mau berbicara sepatah katapun. Terlihat dari caranya merasakan sesuatu seperti kehampaan yang amat dalam.
Di sebuah tempat dengan hembusan angin yang lebut menerpa,ditemani senja orange menghias langit kota hujan...

To be continoue

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar