huzaef

huzaef

Senin, 12 September 2016

Bukan Salah Jurusan, Tapi sebuah Suratan





Lepas pulang kuliah....
Laparrr.....

Data dari publikasi keadaan angkatan kerja di Indonesia 2014 Badan Pusat Statistik menyatakan 7,24 juta orang atau 5,94 % adalah pengangguran. Sedangkan 66,6% nya adalah partisipasi angkatan pekerja.
Pernah dengar ga persepsi orang tentang sekolah, pendidikan, ataupun dunia kerja? Aku yakin udah jadi makanan tiap hari. Disini aku bukan mau mengkalkulasikan jumlah pekerja maupun pengangguran, bukan bidangku soalnya. Hanya membagikan informasi tentang perkembangan tenaga kerja yang ada dinegeri tercinta ini. kalau dulu di desa aku, orang-orang tu banyak yang beranggapan bahwa nanti kalau anak-anak mereka dimasukan ke sekolah lanjutan kejuruan itu akan lebih mudah cari kerjanya. Toh disekolah juga di press buat bisa ahli dibidang yang diminati. Praktek iya, PKL iya. Komplit dah. Siap terjun didunia kerja. Tapi disamping itu juga mengeluhkan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar SPP yang rasanya tiap tahun terus meningkat seiring dengan perkembangan kemajuan sekolah tersebut.
Ada juga nih mereka yang tingkat menengah atas. Ada yang memiliki persepsi kalau anak-anak yang masuk sekolah menengah atas (SMA) itu adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitive dan intelegensi yang mumpuni. Apalagi disekolah negri. Favorite lagi. Ah perasaan juga sama aja. Iya sih kalau dipikir-pikir biaya SMA dengan SMK itu emang kontras. Namun semua itu kembali ke tujuan utama kita kan.
Iya bisa sih bisa.. yang SMA juga bisa langsung kerja apalagi yang SMK :D. Santai aja rejeki ga akan kemana kok...
Karena pada intinya, didirikan sekolah menengah atas/kejuruan itu juga memiliki tujuannya masing-masing. Kata dosenku menerangkan “pada dasarnya kita tidak perlu merubah mindset orang lain tentang SMK. karena SMK ini sebenarnya bukan hanya mengajari anak tersebut ahli dibidangnya namun juga ahli untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebagai bidangnya. Namun sekali lagi, hal tersebut tetaplah dibutuhkan pengalaman. Kalau untuk SMA, memang belum tuntas seutuhnya ilmu untuk bekerja dibidang yang diminati. Maka dari itu, akan lebih baik jika ia melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi. S1 atau D3,D4 atau S2 dan S3.”

Begitu kira-kira penjelasan dosenku yang aku emb,,, favoritin. Bu Kania. “kalaupun dia SMK lalu ingin melanjutkan ke perguruan tinggi pun juga bukan masalah...” lanjut beliau. “dan akan lebih baik bagi yang SMK itu melanjutkan ke perguruan tinggi yang memang ia sudah geluti jurusannya di SMK agar lebih rinci dan detail ia menguasai bidang tersebut.” Selesainya dosen cantik itu menerangkan, atiku mag deg. Opo aku salah jurusan ya? Batinku. Lantas aku bertanya sama kaka hanif yang duduk disebelahku, yang kebetulan satu sekolah sama aku, satu jurusan satu boardingschool, satu, satu, yaah pokoknya atu-atunya. “kak, kita ga salah jurusan kan?” tanyaku bercanda sih sebenernya. Dia ngikik malahan.
Yaah aku pikir ini memang bukanlah suatu yang kebetulan, tapi memang sudah suratan. Insyallah jurusan ini berkah..amin! soalnya dulu, ada cerita dibalik pernyataanku itu. ketika aku lepas lulusan di SMK, aku dan teman-temanku bersiap-siap memilih sekolah lanjutan yang emang dipilihnya pakai hati. -__-. Sreggnya dimana ya disitu yang diusahakan. Tepat setelah pembagian SK pengabdian, ternyata aku...aku...ak terpilih ngabdi di pesantren tersebut. Padahal aku udah kesono kemari nyari ini itu buat nyiapin masuk ke ma’had Ali di Sukabumi. Betapa tidak menangis.... meminta memohon pada bagian kesiswaan agar mengijinkanku untuk tida mengabdi disini. namun sia-sia. Tapi itu belum berakhir, setelah aku kasih tau orangtuaku, maka segenap brigade termasuk didalamnya kakek, ayah, ibu, paman, adekku yang bayi datang ke pesantren untuk meminta ijin. Dan ...dan ternyata sodara-sodara, aku bukan di ma’had yang aku tuju namun di sebuah Universitas nan jauh di mata. Rasanya campur aduk. Seneng ngerasain kuliah, tapi juga merasa perjuanganku masuk ke ma’had Ali itu sia-sia. Hingga akhirnya ketika datang tawaran beasiswa itu, aku dipilihkan antara dua jurusan. KPI atau Eksyar. Maka timbang menimbang, fikir berfikir, aku memutuskan kalau gak KPI ya Eksyar. Tapi  lebih manteb KPI. Hehe. Eits tnggu. Tiba ditempat yayasan, PPMS Ulil Albab aku disodorkan dengan beberapa berkas yang di bungkus map hijau. Setelah aku buka...ternyata option untuk penerima beasiswa akhwat hanyalah jurusan PGMI!!!apppahhh... aku bingung apa itu PGMI, jurusan apa itu? ah tak sedikitpun terlintas di benak. Sama sekali gak nyelip di pikiran. Kataku...sudahlah. Gpp. L. Hingga saat ini jurusan yang identik dengan ngurusi perkembangan dan pendidikan bocah itu aku tekuni. J

Kadang aku suka berfikir, aku ini dulu SMKnya jurusan farmasi. Sekarang kuliahnya PGMI, hemb Kerjanya jadi apa ya? Atau jadi ahli teknologi dan astronomi. Haha. Kalee.hemb. aku berhusnudzon aja, aku yakin salah jurusan bukan berarti salah masa depan.  Toh semua juga sudah menjadi suratan. Seperti kamu yang tiba-tiba muncul itu seperti sebuah suratan. Dan aku mohon padaNya semoga suratnya itu tetap melayang padaku. Ehem..keselek meja jadinya! :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar